Multiplikasi Tunas Pisang Barangan Merah (Musa acuminata Colla) Dengan Beberapa Konsentrasi BAP Secara In vitro Multiplication of Banana cv. Barangan Merah (Musa acuminata Colla) Shoots with Several BAP Concentrations In Vitro

Fadilla Fadilla, Elly Kesumawati, Bakhtiar Basyah, Mita Setyowati

Abstract


ABSTRACT Conventional banana propagation has not been able to meet the increasingly widespread need for banana seeds. Therefore, it is necessary to propagate by in vitro culture using growth regulators in the culture medium. The research was conducted at the Plant Tissue Culture Laboratory, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University. This research used a non-factorial Randomized Group Design (RAK). This research consists of 2 stages, namely induction and multiplication. The induction stage used banana weevil of cv. Barangan Merah as explants and induced in medium containing MS+ BAP 3 mgL-1. The second stage was multiplication of treated banana cv. Barangan Merah shoots. The treatment of multiplication stage was the BAP concentration which consisted of 5 levels, namely 0 (control), 8, 10, 12 and 14 mgL-1. Each treatment was repeated 8 times, so that there were 40 experimental units. The results showed that the survival percentage of Barangan Merah explants at the multiplication stage was 100% at 8 weeks after planting (WAP). The BAP concentration of 8 mgL-1 tended to be better for shoot emergence time (7.88 WAP), explant shoot height (2.73 cm), number of explant leaves (2.33 pieces), and plantlet formation time (37.33 HST). BAP concentration of 12 mgL-1 tended to be better for the number of shoots (3.71 shoots). BAP concentration of 14 mgL-1 tended to be better for leaf emergence time (28 HST). The medium without BAP (control) tended to be better for the number of explant roots (4.67 roots). Keywords: Banana shoots, benzyl amino purine, cytokinin, propagation, weevil explant ABSTRAK Perbanyakan pisang secara konvensional belum mampu memenuhi permintaan bibit pisang secara luas sehingga perlu dilakukan perbanyakan secara kultur in vitro dengan menggunakan zat pengatur tumbuh pada media kultur. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola non faktorial. Penelitian ini terdiri dari 2 tahap, yaitu induksi dan multiplikasi. Tahap induksi menggunakan eksplan bonggol pisang Barangan Merah dan diinduksi pada media MS+ BAP 3 mgL-1. Tahap kedua adalah multiplikasi tunas pisang Barangan Merah yang diberi perlakuan. Perlakuan pada tahap multiplikasi adalah konsentrasi BAP yang terdiri dari 5 taraf yaitu 0 (kontrol), 8, 10, 12 dan 14 mgL-1, dengan 8 kali ulangan, sehingga terdapat 40 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hidup eksplan bonggol Barangan Merah pada tahap multiplikasi adalah 100 % pada umur 8 minggu setelah tanam (MST). Konsentrasi BAP 8 mgL-1 cenderung lebih baik terhadap waktu muncul tunas yaitu 7,88 hari setelah tanam (HST), tinggi tunas eksplan (2,73 cm), jumlah daun eksplan (2,33 helai), dan waktu terbentuk planlet (37,33 HST). Konsentrasi BAP 12 mgL-1 cenderung lebih baik terhadap jumlah tunas (3,71 tunas). Konsentrasi BAP 14 mgL-1 cenderung lebih baik terhadap waktu muncul daun (28 HST). Konsentrasi tanpa BAP (kontrol) cenderung lebih baik terhadap jumlah akar eksplan (4,67 akar). Keywords: Benzil amino purin, sitokinin, perbanyakan, tunas, eksplan bonggol

Full Text:

PDF

References


Ernawati A, Purwito A, Pasaribu JM. 2005. Perbanyakan Tunas Mikro Pisang

Raja Bulu (Musa AAB Group) dengan Eksplan Anakan dan Jantung. Bul. Agron. 33(2): 31-38.

Hartati SRB, Arniputri LA, Soliah, Cahyono. 2017. Effects of Organic Additives and Naphthalene Acetid Acid (NAA) Application on the In Vitro Growth of Black Orchid Hybrid (Coelogyne pandurata L.). J. Agri. Sci. 23(6): 951-957.

Isda MN, Fathonah, S. 2014. Induksi Akar pada Eksplan Tunas Anggrek Grammatophylum scriptum var. Citrinum secara In vitro pada Media MS dengan Penambahan BAP dan NAA. Jurnal Biologi Lingkungan, 7(2): 53-52.

Marlin 2010. Regenerasi In Vitro Planlet Pisang Ambon Curup Bebas Penyakit Layu Fusarium. Prosiding pada Seminar Nasional dan Rapat Tahunan Dekan Bidang Pertanian BKS Barat.

Setyowati M., Efendi, Alfizar, Bakhtiar, Kesumawati E. 2022. Optimization of Benzyl Amino Purines (BAP) Concentration and Medium Type On The Induction of Banana Shoots (Musa acuminata Colla.) cv. Barangan Merah Under In Vitro Condition. pp.1-7.

Nugraha MFI, Yunita R, Lestari EG, Ardi I. 2017. Pembentukan Mother Plant Bacopa australis Secara In Vitro pada Berbagai Dosis Zat Pengatur Tumbuh dan Media Aklimatisasi. Media Akuakultur. 12(2): 85-94.

Rainiyati, Lizawati, M Kristiana. 2012. Peranan IAA dan BAP Terhadap Perkembangan Nodul Pisang (Musa AAB) Raja Nangka secara In Vitro. Jurnal Agronomi. 13(1)51- 57.

Ramesh Y, Ramassamy V. 2014. Effect of Gelling Agents in bello Multiplication of Banana var. Poovan. Int. J. Advanced Bio.4(3): 308-311.

Rionaldi R. 2019. Pemberian BAP dan NAA Terhadap Pertumbuhan Eksplan Pisang Barangan (Musa Paradisiaca L.,) Secara In Vitro. Universitas Islam Riau.

Smith RH. 2000. Plant Tissue Culture. Technique and Experiments. California: Academic Press.

Su Y, Y Liu, Zhang. 2011. Auxincytoknin Interaction Regulates Meristem Development. Molecular Plant. 4(4): 616-625.

Soesanto L, FR Rahayuniati. 2009. Pengimbasan Ketahanan Bibit Pisang Ambon Kuning terhadap Penyakit Layu Fusarium dengan Beberapa Jamur Antagonis. J. HPT Tropika. 9(2): 130-140.




DOI: https://doi.org/10.35308/jal.v10i1.8366

Refbacks

  • There are currently no refbacks.